Setelah nyoblos...eh nyontreng selanjutnya apa ?
Sampai artikel ini saya tulis (14 april 2009 ),proses penghitungan suara belum selesai semuannya.Apalagi ada daerah2 yg hari pencontrengannya diundur.
Tapi dari hasil penghitungan sementara baik oleh KPU maupun lembaga2 lainnya kita sudah bisa melihat hasil perolehannya...baik itu siapa yg tersenyum senang maupun mereka yg tersenyum kecut.
Disini saya hanya ingin mengulas berita2 di media elektronik khususnya ditelevisi, yang memberitakan bahwa angka dari pemilih yang golput menunjukkan kenaikan angka yg katanya signifikan.
Hal ini bisa saja benar tapi bisa saja salah, kenapa demikian ?...
Rusaknya surat suara atau tidak sahnya surat suara tidak bisa di indentikkan dengan golput.
Hal ini dapat disebabkan karena faktor :
Masih tidak pahamnya para pemilih dg sistem pemilu dan pemberian suara yg sekarang.Bisa karena bingung karena banyaknya partai,caleg yg tidak dia kenal,sampai dg cara pencontrengan
yang belum familiar ( karena kita terbiasa nyoblos sejak pemilu th 1955 dan merubah kebiasaan lama dan pemahaman diperlukan ekstra kerja keras )
Sehingga hasil dari pencontrengan, berdasar peraturan yg ada di anggap tidak sah.
Hal yg disebabkan karena faktor di atas tidak bisa dikatakan golput menurut saya.
Kemudian yang golput itu yang bagaimana ?
Sekali lagi ini menurut saya lho...
Pemilih yg dikatakan golput adalah :
- pemilih yg punya hak pilih tetapi tidak menggunakan hak pilihnya secara sadar ( tidak ikut nyontreng )
-pemilih yg punya hak pilih dan menggunakan hak pilihnya secara sadar tetapi dengan sengaja dia merusak suaranya dengan cara yg tidak di benarkan oleh peraturan.Misalnya mencontreng lebih dari 1 partai atau 1 caleg,atau merusak dg cara apapun sehingga berakibat surat suaranya menjadi tidak sah.
Kedua hal di atas dilakukan secara sadar.
Jadi tidak bisa dikatakan rusaknya surat suara indentik dengan golput.
Karena orang yg sengaja secara sadar untuk bersikap golput adalah orang yg punya dasar untuk melakukan tindakan tersebut.
Nah..sekarang apapun hasil dari pemilu tahun ini saya hanya berharap,Indonesia rakyatnya tetap rukun tidak gegeran (bertengkar) terus... hanya karena kepentingan sesaat.
"SIAPAPUN ANDA,APAPUN PILIHAN ANDA,SEMUA ADALAH SESAMA MAHLUQ ALLAH DI BUMI NUSANTARA DAN BERSAUDARA"
Tuesday, April 14, 2009
GOLPUT...kah
Thursday, April 9, 2009
Enaknya Pemilu tahun ini....

Halo...sobat.....
Baru sekali ini saya senang dengan dampak Pemilu yang dilaksanakan hari ini (9 April 2009) merupakan hari pencoblosan..eh maaf maksudnya pencontrengan (menurut aku tuh..yang bener "pencentangan" atau centang).
Kenapa kok aku begitu senang..? lha bagaimana tidak, pada hari ini hampir semua jalan raya di kota Jogja bener-bener sepi,sangat lengang bahkan lebih lengang dari liburan Iedhul Fitri.
Bener2 nikmat,...udara tidak polusi hari ini bahkan sampai jam tengah hari pun suasana bener2 nyaman buat berkendaraan.
Harap maklum...meski Jogja semboyannya BERHATI NYAMAN ,tapi dalam kesehariannya sekarang sudah tidak jauh berbeda dengan kota besar lain macam jakarta,semarang ato surabaya.Macet,puanasnya...,bah...
Pagi hari adalah jam macet di semua ruas jalan,terutama jalan menuju UGM dan UNY demikian juga sore hari.
Pada hari ini saya jadi teringat era tahun 80-an ,jogja adalah kota yang bener2 nyaman .Orangnya ramah2 dan sangat medok..., nyaman buat jalan kaki ke kampus, bersih udaranya,hak pejalan kaki dan orang bersepeda maupun becak masih dihargai...
ahhh...
yang punya gambar :
http://kapankejogjalagi.blogspot.com/
karo...
http://djogjakarta.blogdetik.com
Sunday, July 20, 2008
Kisah sukses Theo F. Thoemion - pemain FOREX

Main uang karena ingin menikmati hidup
Berikut ini adalah sosok yg sukses di dunia forex,siapapun dia yang penting kita ambil nilai positifnya.
Kuncinya adalah : belajar,mencoba/membuka wawasan terhadap hal baru ,fokus,pantang menyerah.
Terjunnya Theo di kancah pasar uang agaknya tak terduga sebelumnya. Pria kelahiran Manado, 21 September 1956, ini semula berangan-angan jadi pastor, tapi dikeluarkan saat naik ke kelas 3 Seminari Menengah Tomohon tahun 1974. Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini sama saja dengan ayah, paman, para sepupu, dan saudaranya, yang pernah masuk ke seminari namun gagal jadi pastor. "Saya menanggung harapan besar. Nilai dan aktivitas sekolah bagus. Maka ibu terguncang dan jatuh sakit ketika saya keluar," kenangnya.
Pastor pembimbing waktu itu mengatakan, ia akan lebih sukses hidup di luar biara. Kendati sedikit menyesalkan keputusan itu, ia berbalik haluan. Ia melamar ke Bank Indonesia dan diterima di BI cabang Surabaya. Setelah 2 tahun bekerja, timbul keresahan di antara teman-temannya yang cuma berijazah SMA. Sebab dengan begitu, mereka tak mungkin bisa masuk jajaran staf. "Nggak bakal pakai dasi dong seumur-umur," papar Theo mengenang.
Nampaknya BI tanggap pada kegalauan itu dan mengadakan seleksi untuk promosi. Yang lolos akan disekolahkan sejajar dengan universitas. Dari BI Surabaya lulus 4 orang, salah satunya Theo. Sementara dari seluruh Indonesia terjaring 60 orang. Mereka dimasukkan ke Pendidikan Ahli Administrasi dan Keuangan Bank di Jakarta, menjalani pendidikan maraton dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari dengan fasilitas penuh, selama 3 tahun. "Gelarnya sejajar akuntan, tapi BI nggak kasih gelar, takut kami keluar."
Sempat bekerja di bagian pengawasan BI selama setahun, ia kembali mengikuti seleksi intern guna ditempatkan di London. Dari 40 peserta hanya Theo yang lulus. Di London ia langsung jadi staf termuda pada umur 23 tahun. Kesempatan di sana ia gunakan untuk mengikuti serangkaian pelatihan dan praktek. Belajar forex di Paris, London, Amsterdam, dan Kopenhagen. Mempelajari bank sentral di Denmark dan Belanda, menggeluti cadangan emas di Swis, juga duduk dan bermain di banyak ruang transaksi forex. "Waktu itu kepala dealing room Jakarta pindah, jadi saya disiapkan untuk menggantikannya. Saya sadar, untuk jadi dealer harus punya pengalaman dan cakrawala dengan duduk di pusat keuangan dunia."
Penempatan dealer di BI sebenarnya bertujuan untuk mengelola cadangan devisa sejumlah AS $ 6 miliar dengan menempatkannya di posisi yang tepat. Bukan untuk memperdagangkannya. "Maka di luar jam kerja, saya main margin trading atas nama pribadi, bukan BI."
Setelah 5 tahun bermukim di Inggris, Theo sebenarnya ingin pulang ke tanah air, tetapi pemerintah Inggris mengetahui reputasinya dan memberi izin tinggal tetap. Ia bisa bekerja apa saja. "Wah, percaya dirilah saya. Pekerjaan BI yang diidamkan banyak orang nggak terlalu menggiurkan lagi," kata Theo.
Maka, ketika benar-benar pulang ke Indonesia ia sekaligus minta izin keluar dari BI untuk masuk ke London School of Economics (LSE). Maksudnya sebagai batu loncatan untuk bekerja di Bank Dunia atau IMF. Tapi keasyikan bermain forex membuatnya malas bersekolah. "Jiwa saya player, jadi saya tak jadi masuk LSE meskipun sudah diterima. Saya main valas terus, dan ingin menikmati hasilnya. Saya ingin menikmati hidup bukan sebagai pegawai BI yang bertahun-tahun cuma bisa naik mobil sederhana."
Saat main margin trading, pertengahan 1980-an, modal dengkul masih berlaku. Modalnya dipinjami, tapi kalau untung masuk kantung sendiri. Pokoknya main untuk meramaikan. Masa itu tak sulit mereguk untung lantaran pasar gampang diterka. Dolar turun searah. Tapi sejak 1987, peluang meraup keuntungan makin sulit. Selain pemain makin banyak, modal pun mulai diatur. Saat itulah Bank Duta terpuruk karena permainan valas.
Soal kesempatan meraup untung memang tak ada yang lebih cepat daripada main valas. "Saya masih ingat, hanya dengan mengangkat telepon dari vila di Puncak sambil main gaple dan makan pisang goreng, bisa dapat AS $ 60.000 semalam."
Kisah & Cerita Trader Sukses Trading Forex (Valas) Telepon memang diibaratkan cangkulnya buat cari makan. Juga berbagai perangkat komunikasi. Baik untuk bertransaksi ke seluruh dunia, memantau pasar yang berjalan 24 jam sehari, juga melihat kerugian dan keuntungan uangnya. "Tapi hidup saya tak habis di sana. Apa lagi saya harus membagi pengetahuan kepada banyak orang. Kalau menulis dan bikin analisis, saya tak main. Saya meramal dan menghitung, biar orang lain yang dapat keuntungan."
Theo tak terikat pada suatu lembaga keuangan. Kalau mau main, ia sendiri yang menentukan. Sejak tahun lalu, ia mendirikan perusahaan jasa konsultasi pasar uang Speed Currency. Bagi yang ingin tahu atau ingin main valas boleh jadi pelanggan. Dengan membayar AS $ 100/bulan, Theo pun memberi analisis dan panduan.
"Cita-cita saya membuat Speed Currency seperti Bloomberg. Ia besar dan disegani, meski awalnya juga dirintis di garasi," ia menunjuk garasi di rumahnya yang berhalaman luas di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ia mempekerjakan 4 orang yang, selain mengolah analisis, juga bertindak sebagai fund manager. "Mereka jago-jago yang tak bisa dianggap remeh, karena lewat tangannya sering terjadi transaksi miliaran dolar," kata Theo bangga.
Karena bekerja di rumah, Theo tak terikat pada aturan dan jadwal kerja yang pasti. Ia adalah pegawai bagi dirinya sendiri. Juga pegawai yang mengantar anak-anak ke sekolah, menemani mereka bepergian, bahkan mendampingi saat mereka mau tidur.
Theo menganggap, anak-anak lebih memerlukan kebersamaan ketimbang uang. Tak soal ia telah punya vila di Puncak, Jawa Barat, dan hotel di atas tanah 10 ha di Manado. Anak-anak pula yang menghadirkan cerita unik bagi perjalanan hidup Theo. Saat masih di dalam kandungan, kecuali si bungsu Daniel (hampir 2 bulan), mereka berada di tempat yang jauh dari rumah. Dari yang sulung tempatnya paling jauh, sampai si bungsu yang paling dekat. Namun akhirnya semua lahir di Jakarta.
Menurut istrinya, Sandra Pingkan Adriana Lolong (38), si sulung Monika (12) berada di dalam kandungan saat mereka di New York . "Barulah 2 bulan menjelang melahirkan, saya kembali ke Jakarta," kata Sandra. Begitu pula Abi (9) yang dikandung saat mereka tinggal di London. Keisha (7) anak ketiga, dikandung di Singapura. Sedangkan Dorothea (5) dikandung sewaktu mereka di Manado. Barulah anak ke-5, Daniel, menghabiskan seluruh masa janin hingga lahir di Jakarta.
Jumlah anak sampai 5, bagi pasangan Theo dan Sandra juga cerita tersendiri. Theo memang dari keluarga besar, namun Sandra hanya 2 bersaudara. Setelah kelahiran Abi, keduanya ingin ber-KB. "Tapi apa mau dikata, kebobolan terus. Selain mengalami beberapa kegagalan, saya pun pernah kehilangan spiral," kata Sandra. "Akhirnya, setelah melahirkan Daniel, saya minta disteril."
Buat pasangan ini, anak-anak adalah segalanya. Mereka yang terbiasa memanggil "Papa Theo" adalah rekan sepanjang hidup, sekaligus jadi rem manakala Theo terlalu keasyikan bermain uang. (G. Sujayanto/A. Heru Kustara/Mayong S. Laksono)
Sumber article dan picture :http://www.belajarforexpro.com
Thursday, May 1, 2008
Nangkap guru..apa nangkap teroris
KADO DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL
Beberapa hari ini baik di surat kabar maupun di media electronic, bangsa Indonesia menyaksikan sebuah fragmen yang mengenaskan dari dunia pendidikan kita.
Sekelompok oknum guru dan kepala sekolah dari sebuah sekolah lanjutan di daerah Lubuk Pakam,Deli Serdang di gerebek oleh satuan elite polisi DENSUS 88.Seperti kita ketahui DENSUS 88 adalah satuan polisi anti teror/teroris.
Para oknum guru tersebut digrebek/ditangkap oleh satuan tersebut, karena kedapatan sedang mengganti jawaban hasil UN ( ujian nasional )dari murid kelas 3 untuk mata pelajaran bahasa inggris.Yang ternyata hasil ujian para siswa tersebut akan berakibat tidak lulusnya siswa sekolah tersebut.
Pembaca yang budiman, bisakah anda membayangkan rasa takut yang amat sangat yang dialami para guru tersebut. Yang mungkin seumur-umur belum pernah berurusan dengan para penegak hukum,apalagi dengan polisi anti teror yang dengan seragam hitam dan topeng penutup wajahnya menangkap para guru tersebut.
Lalu apakah tindakan para guru tersebut mengganti jawaban hasil UN semata mata karena kesalahan guru tersebut?
Jika kita runut persoalannya dengan kepala dingin dan bijak, sebenarnya tindakan guru tersebut disebabkan karena beban berat yang menimpa para guru dengan adanya sistem Ujian Nasional yang sekarang dilaksanakan.Beban tersebut baik secara psikis dan struktural sebenarnya tidak hanya membebani para guru/sekolah.Tetapi juga para siswa kelas 3 dan orang tua murid.
Sekarang ini kelulusan seorang murid seakan akan hanya ditentukan oleh angka minimal dari mata pelajaran yang di ujikan secara nasional,di sini para guru tidak bisa berbuat banyak. Karena sistem yang berlaku. Pada hal guru adalah orang yang tahu persis bagaimana seorang murid.Bisa saja seorang murid secara mudah menguasai pelajaran yang akan di ujikan untuk UN dan berhasil lulus dengan angka yang diatas minimal. Tetapi seorang guru tahu persis bagaimana kwalitas dan budi pekerti anak didiknya.
Dahulu meskipun seorang murid dapat lulus karena bisa mengerjakan ujian dengan angka yang baik tapi jika para guru mempertimbangkan aspek ahlak,budi pekertinya yang kurang baik,bisa saja murid tersebut tidak lulus.
Kembali ke soal lubuk pakam tadi, menurut analisa saya besar kemungkinan para guru tersebut khawatir jika sebagian anak didik kelas 3 nya tidak lulus UN. Padahal mereka sudah di ajar bahasa inggris selama 3 tahun yang nyatanya tetap saja ndak bisa bahasa inggris ( lha ya maklumlah..).Kekhawatiran para guru tersebut beralasan karena jika banyak siswa yang tidak lulus maka akan menurunkan kredibilitas sekolahan dengan diturunkannya kelas akreditasinya juga kredibilitas para guru tersebut.
Maunya pemerintah memang bagus dengan menaikan standart kelulusan siswa, tetapi apakah sarana,prasarana,sumber daya manusia dari dunia pendidikan di negeri kita sudah memadai ? belum lagi yang rencana anggaran pendidikan nasional akan dipangkas 20 %.
Segala sesuatu tidak bisa diukur dari angka saja tapi masih banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Ya.. inilah sebuah potret buram dari dunia pendidikan di negeri kita dan ingatlah para guru adalah pendidik dan pengajar, mereka bukan teroris yang tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Seperti ndak ada kerjaan lain...
Oala....a...ah..h Omar bakrie nasibmu dulu naik sepeda kumbang....sekarang dianggap teroris..........
Artikel berkaitan silahkan KLIK DISINI...
sumber gambar :sahabatguru.wordpress.com
Monday, April 21, 2008
Golput juga sebuah pilihan ...
Menjelang hajatan bangsa ini tahun depan dengan pemilu-nya yg hiruk pikuk dan penuh euphoria demokrasi "kebablasen" / kata orang jogja, saya hanya mau menyoroti
komponen bangsa kita yang kemungkinan memilih untuk masuk kategori golput.
Sebenarnya kategori golput dalam konteks pemilu adalah orang yg tidak menggunakan hak pilihnya dalam prosedural pemilu,atau orang yg dengan sengaja merusak hak pilihnya dengan mencoblos surat suara dengan banyak pilihan,sehingga surat suara tsb menjadi tidak sah.
Persoalannya adalah dalam negara kita yang baru merangkak menuju yg katanya "demokratis",
persentase golput menunjukkan angka yang semakin meningkat,penulis tidak bisa menyajikan angkanya.Tetapi pembaca bisa melihat ke media yang pernah melakukan pooling atau hasil penelitian dari beberapa perguruan tinggi di negeri kita.
Sebetulnya ada apa dengan golput ?
Dalam kehidupan bangsa kita yang berharap melihat perubahan ke arah yg lebih baik sejak tahun 1998 (awal mula reformasi }, ternyata hingga kini harapan tersebut belum begitu terealisasi secara signifikan.
Pemerintahan dan kepala negara silih berganti, tetapi secara umum buat bangsa ini apa yg menjadi harapan rakyat yaitu keadaan ekonomi yang membaik,keadilan dalam hukum,pelayanan kepada masyarakat ternyata masih "jauh panggang dari api".
Belum lagi sekelompok intelektual,politisi dan kelompok partai yang masih mementingkan dirinya/golonganya dengan mengatas namakan rakyat.Lha kalo dipikir rakyat yang mana...?
Toh nyatanya kata sebagian bangsa ini yg "..mengeluh..", kehidupan dirasakan semakin sulit dalam perekonomian, dan mereka sudah capek dengan janji-janji para politisi yg mereka pilih dengan harapan kepentingan rakyat terwakili.
Rakyat pinggiran, petani,mahasiswa,intelektual terpinggirkan,dan..siapapun sudah capek dengan janji janji manis.
Jangan salahkan kalo mereka memilih untuk tidak berpartisipasi dalam dalam pemilu.
Sebab apa ?...
Jaman dulu ada jargon ndak enak tertuju pada PNS "..PNS pinter apa goblok sama saja..
rajin apa malas sama saja....dibayar "
Lha kalo sekarang..? "..presiden ato pemerintahan boleh berganti..nyatanya podo wae (sama saja)..keadaanya.."
Penulis menyadari merubah dan menata keadaan di negara ini menuju lebih baik bukan pekerjaan mudah tetapi bukan berarti tidak bisa.
Dan menjadi kepala negara di negeri ini adalah betul2 orang yang "pilih tanding" dalam memperbaiki keadaan negeri ini.
Memang golput dalam pemilu tidak kita harapkan,tapi itu ndak bisa terhindari karena adanya golput merupakan salah satu parameter berhasil tidaknya suatu pemerintahan dalam memenuhi hajat rakyatnya yang pokok.
Orang lapar..,orang ndak punya rumah..,orang ndak punya pekerjaan berpenghasilan cukup..,orang putus sekolah..,orang yg lemah dimata hukum ...jangan diajak bicara demokrasi. Tapi cukupilah kebutuhannya dahulu.
Dan golput juga merupakan suatu "pilihan" ..meskipun patut disayangkan.
Artikel ini saya tulis bukan bertujuan mengkampanyekan menjadi golput.Harap diperhatiken...
Wednesday, April 2, 2008
Ironi disebuah negara agraris
Teman..., beberapa waktu yang lalu kita membaca dan melihat di media masa di sulawesi ada seorang ibu sedang mengandung meninggal bersama anaknya yang dikandung juga sama anaknya yang masih balita.mereka meninggal karena kelaparan dan malnutrisi.Ironisnya setelah tayangan berita tsb disebuah TV swasta berikutnya adalah acara kuliner yang menayangkan adegan seorang presenter sedang mencicipi makanan yang nikmat...dg jargonnya yang terkenal mak nyo..o..s..
Mustinya kalo kita masih punya nurani sebagai manusia,kita pasti trenyuh dengan fragmen tersebut.
Tetapi apa mau dikata dinegeri kita yang terkenal sebagai negeri yang melimpah hasil buminya,ternyata ada warga negeri ini yang mati kelaparan.
Negeri ini yang sejak dulu terkenal sebagai negeri yang loh jinawi tapi sekarang....
memenuhi kebutuhan beras saja harus beli dari negeri lain yg baru kemaren sore merdeka kayak vietnam.
Jangan jangan nanti pepatah jawa kuno dulu sedang terjadi di negeri ini
"tikus mati neng njero lumbung" ( tikus mati dalamlumbung ).
Tapi harap maklum kalo lumbung dinegeri ini sudah tidak terurus dan kosong, maka
matilah si tikus.Karena isi lumbung sudah sangat mahal dan mahal...dan dijarah oleh perampok.
Negeri ini sudah seperti kereta jenasah yang akan dibawa kemanapun oleh sang kusir kita ndak tau..
Saya tidak akan mengatakan "Right or wrong this my country"
Tapi saya akan mengatakan "Mesake negoro ku iki"
Jampidsus kok.....
Pagi-pagi lagi enak2nya ngopi dikantin kampus,perhatian tertuju pada berita yang dimuat surat kabar perjuangan dikotaku.Headline beritanya adalah "Disertasi Kapolda DIY di Plagiat".Yang menarik adalah si pelaku ini adalah calon Jaksa muda pidana khusus ( Jampidsus ) Kejaksaan Agung.
He....he jeruk kok makan jeruk.
Apa makna dari berita itu? artinya dinegara ini-pun bahkan terhadap sesama penegak hukum-pun sudah ndak ada rasa sungkan dan etika jika harus melanggar hak seseorang yg dilindungi hukum.
Bagaimana nantinya kalo harus ngurusi berbagai masalah dinegeri ini.....
"Mesake tenan negoro ku iki"
source :Kedaulatan Rakyat,2 april 2008





